Cibinong, YSK TV — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Hayati menjalin kolaborasi dengan Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia (PB FMI) dalam penyelenggaraan Pelatihan Keselamatan Kerja dan Keterampilan Alam Bebas bagi Peneliti Lapangan BRIN. Kegiatan ini dilaksanakan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno BRIN, Cibinong, pada 27 Agustus.


Sebanyak 30 peneliti BRIN mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas, kesiapsiagaan, dan kemampuan peneliti dalam menghadapi berbagai tantangan serta risiko selama menjalankan kegiatan penelitian di lapangan.
Pelatihan ini menjadi salah satu program pembekalan keterampilan alam bebas yang secara khusus dirancang bagi peneliti. Materi yang diberikan mencakup berbagai kompetensi penting, antara lain Basic Mountaineering, Perbekalan dan Perencanaan Ekspedisi, Basic Jungle Survival, Dasar Climbing dan Tali-Temali, Navigasi Darat dan Peta, Basic Sea Survival, Navigasi Laut dan Peta Laut, Wilderness Medicine, serta Mountain Life Support.
Berbagai materi tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman dan keterampilan praktis kepada para peneliti dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan menghadapi situasi darurat selama berada di lingkungan alam terbuka. Kompetensi tersebut dinilai penting mengingat kegiatan penelitian lapangan sering kali dilakukan di kawasan dengan kondisi geografis dan tingkat risiko yang beragam.
Para peserta mendapatkan pembekalan langsung dari instruktur-instruktur PB Federasi Mountaineering Indonesia yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam kegiatan ekspedisi serta petualangan alam bebas. Para instruktur tersebut memiliki pengalaman di berbagai medan, mulai dari kawasan pegunungan, hutan, laut, hingga tebing. Tim instruktur terdiri atas Ripto Mulyono, Fery Irawan, Indra Hermawan, Riyanto Pane, Putro Muhammad, dan Achmad Fauzi.
Kepala Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Decky Indrawan Junaedi, yang hadir mewakili Kepala Organisasi Riset Hayati BRIN, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari penguatan kolaborasi sekaligus strategi peningkatan kapasitas sumber daya manusia peneliti.
Menurutnya, pelaksanaan penelitian di alam terbuka memiliki karakteristik, tantangan, dan risiko yang berbeda dengan kegiatan penelitian di lingkungan perkotaan maupun laboratorium. Oleh karena itu, peneliti yang bekerja di lapangan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menjaga keselamatan diri serta mampu merespons berbagai kondisi yang mungkin terjadi.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian peserta pelatihan dalam waktu dekat akan melaksanakan kegiatan ekspedisi keanekaragaman hayati di kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Karena itu, pembekalan keterampilan keselamatan dan kemampuan bertahan di alam menjadi bagian penting dalam persiapan pelaksanaan ekspedisi tersebut.
Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Buyung Lalana, menyampaikan bahwa FMI merupakan organisasi yang menjadi wadah bagi para pendaki gunung dan pegiat kegiatan petualangan alam bebas di Indonesia.
Menurut Buyung Lalana, kolaborasi antara FMI dengan berbagai lembaga pemerintah, termasuk BRIN, memiliki arti strategis dalam mendorong penerapan standar keselamatan dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia dalam berbagai aktivitas di alam terbuka.
Mantan Panglima Korps Marinir TNI Angkatan Laut tersebut menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan FMI tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pendakian dan petualangan, tetapi juga mencakup bidang penelitian dan pengembangan.
“FMI memiliki sumber daya manusia dan potensi yang besar dalam dunia petualangan alam bebas yang dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan sains dan teknologi. Karena itu, FMI siap mendukung kemajuan riset dan inovasi Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Buyung Lalana menjelaskan bahwa hubungan antara FMI dan lembaga riset nasional memiliki sejarah yang cukup panjang. Ia menyebutkan bahwa gagasan awal pembentukan FMI memiliki keterkaitan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang saat ini telah terintegrasi dalam BRIN, melalui kegiatan Sarasehan Pendaki Gunung se-Indonesia.
“Setelah dilakukan diskusi dengan Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, kami kemudian menyepakati pentingnya membangun kolaborasi, khususnya dalam kegiatan penelitian serta pemanfaatan potensi dan sumber daya para pegiat pendakian gunung untuk mendukung riset nasional,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Koordinator Kerja Sama BRIN–PB FMI, Arief Rahman Hakim, didampingi oleh Bidang Litbang PB FMI, Steven Sumolang, yang juga merupakan Peneliti BRIN pada Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB), menyampaikan bahwa FMI telah merancang langkah-langkah kerja sama dengan BRIN melalui penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Arief Rahman Hakim menjelaskan kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan ekspedisi penelitian bersama serta pelaksanaan berbagai program pelatihan keselamatan kerja dan keterampilan di alam terbuka. Selain itu, kolaborasi BRIN dan FMI juga diharapkan dapat membuka peluang pelaksanaan ekspedisi ilmiah di kawasan pegunungan dan laut yang masih belum banyak dieksplorasi.
Rencana kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan kajian dan penelitian mengenai tata kelola kawasan pegunungan serta berbagai isu strategis yang berkaitan dengan lingkungan dan konservasi alam.
Melalui sinergi antara kapasitas ilmiah BRIN dan pengalaman lapangan yang dimiliki Federasi Mountaineering Indonesia, kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat budaya keselamatan bagi para peneliti lapangan. Di sisi lain, kerja sama tersebut juga menjadi peluang untuk memperluas pengembangan ekspedisi ilmiah, penelitian lingkungan, dan eksplorasi potensi alam Indonesia secara lebih profesional, aman, dan berkelanjutan.
Kolaborasi BRIN dan FMI diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem riset lapangan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian ilmiah, tetapi juga menempatkan keselamatan, kesiapsiagaan, dan profesionalisme sebagai bagian penting dari pelaksanaan penelitian di alam Indonesia. (Pen)









